15 September 2015

Keputusan Pemkab Tebo melalui Dinas Dikbudpora Tebo yang menyatakan siswa tetap sekolah seperti biasanya, menuai protes masyarakat. Pasalnya, kondisi asap yang menyelimuti Kabupaten Tebo kian tebal dan pekat.
"Kita orang awam, jangan asal buat kebijakan. Jalan saja sudah dak nampak lagi. Mata sudah perih dan napas sudah sesak, kok sekolah tidak diliburkan," ujar Sabri, salah satu orangtua murid.
Hal yang sama juga dikatakan Ahmad, Petugas Kebersihan, Dia juga mengecam kebijakan Pemkab yang tidak meliburkan sekolah. "Lihat acara di TV Jambi saja sekolah sudah diliburkan, kok kita belum juga diliburkan, harus nunggu korban dulu," tuturnya.
Terkait hal itu, Syarfandi, Kepala SMA 3 Tebo, mengakui tidak berani meliburkan siswanya. Menurutnya, hingga saat ini belum ada instruksi dari dinas Dikbudpora Tebo untuk meliburkan siswa.
"Jadi kita tidak berani meliburkan anak-anak (siswa,red) karena tidak ada dasarnya," ujar Syarfandi. Dijelaskannya, untuk meliburkan sekolah tidak bisa hanya keputusan sebelah pihak. Harus mengikuti prosedur dan aturan.
"Kita tidak bisa meliburkan siswa secara sepihak karena hanya akan menjadi tanda tanya bagi sekolah lain, apalagi Dinas terkait tidak ada memberikan disposisi untuk meliburkan siswa, jadi sjawa tetap sekolah seperti biasanya," tambahnya.
Untuk diketahui, Sukandar Bupati Tebo memberikan wewenang kepada masing-masing sekolah untuk mengambil keputusan, apakah siswa diliburkan atau tetap sekolah seperti biasanya. Hal itu dikatakan bupati karena kondisi kabut asap di tiap kecamatan di Tebo, berbeda.
Namun, sesuai hasil survey Dinas Dikbudpora, menyatakan bahwa wali murid atau orang tua siswa minta agar anaknya tetap sekolah seperti biasanya.
Sementara, dari hasil ukur ISPU yang dilakukan oleh pihak KLH Tebo beberapa waktu lalu, kondisi udara Tebo sudah mencapai 400 PSU atau sudah dalam kategori bahaya.
Sumber : http://jambisatu.com/berita-sekolah-tidak-libur-masyarakat-protes.html
Posting Komentar